Monday, May 27, 2013

Festival sebagai Hub: Perayaan yang Memusat sekaligus Menyebar


Kegagalan Locstock Fest #2, bukan hanya permasalahan panitia acara tersebut. Ini adalah waktu yang tepat untuk memikirkan kembali format festival musik yang monumental. Festival musik yang mengandalkan panggung besar serta musisi kenamaan untuk menjual tiket dan mendatangkan penonton sebanyak mungkin. Apakah format festival macam ini masih relevan?

Ya. Festival dengan format ini sangat cocok untuk mempromosikan suatu merk tertentu, misal merek obat masuk angin atau rokok, dengan mengundang musisi yang lagunya paling sering diputar di televisi nasional. Perhelatan macam ini menjadikan promosi sebagai tujuan utamanya dan penonton sebagai calon konsumennya. Maka relasi yang tercipta adalah antara sang bintang (kuasa yang lebih tinggi) dan penonton (penerima kuasa). Penonton hanyalah gerombolan tubuh yang berada di satu tempat, satu waktu, dan siap menerima pesan. Baik penonton maupun musisinya, bertindak dalam pengaturan yang standar. Gerakan tubuh yang sama. Musik yang tidak jauh beda. Format acara yang seragam.

Namun, sebagai sebuah perhelatan yang memberikan kontribusi kultural (seperti misi Locstock Fest) atau mendukung budaya anak muda, apakah format festival yang monumental macam ini masih relevan?

Tuesday, January 15, 2013

This is Art and That is Not Art: Notes on OHD Museum Collection

Cold by Edhi Sunarso, one of the artworks in OHD Museum
Why on earth did I need to made this blog post on English? Because I had to. On some levels, I need to start writing in English, in order to improve my skills. My experience on English writing was limited to replying emails. So this is the right time to train and trim my writing skills. Also, I can't stand being defeated by a 13 year old blogger with much fluent English writings who quoted Susan Sontag and Ansel Adams in one of her post.

Last week, I went to OHD Museum in Magelang, Central Java. Taken from their site, OHD Museum is;
a private modern and contemporary art museum owned by dr. Oei Hong Djien (OHD). As a well-known art collector, curator, and advisor to The National Art Gallery, Singapore. Dr. Oei Hong Djien started his collections in early 1970s. Currently, with dr Oei’s collection of more than 2000 artworks, ranging from paintings, sculptures, and installations from different time periods, OHD Museum provides a collection representing the essence of modern and contemporary Indonesian art. The OHD museum aspires the young generations to appreciate, enjoy, treasure and preserve Indonesian art.

Thursday, January 10, 2013

Bagaimana menulis lebih baik dibandingkan yang biasa kamu lakukan?


Bakat memang hal yang penting. Anak-anak berbakat selalu mendapatkan posisi yang baik di sekolah. Baik secara status sosial di kalangan sesama murid maupun dari pihak sekolah. Malah justru pihak sekolah yang lebih banyak memperlakukan murid berbakat secara sangat istimewa. Mungkin karena para guru umumnya adalah orang-orang yang sudah tua. Dan biasanya pihak tua memiliki harapan berlebihan kepada yang muda. Mereka membayangkan masa depan dan kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa dicapai anak muda. Terutama anak muda dengan bakat yang memiliki kemungkinan lebih luas dan banyak di masa depan.

Namun apalah arti bakat tanpa latihan dan kerja keras? Kata Einstein. Atau Bruce Lee? Atau Icuk Sugiarto?

Wednesday, January 2, 2013

2013 adalah 2012 yang baru

Saya keheranan melihat kegembiraan tanpa alasan
yang ditunjukkan di malam tahun baru 2013, di Jalan Malioboro,
Yogyakarta. Foto oleh Budi. N. D. Dharmawan.

Tentu saja harapannya adalah saya di tahun 2013 adalah versi baru dan lebih baik dari saya di tahun 2012. Banyak jalan untuk menjadi saya-versi-lebih-baik di tahun 2013. Saya bisa membuat resolusi, menetapkan target jangka pendek dan panjang, mempelajari kemampuan baru, ataupun menciptakan proyek pribadi.

Siapa pun yang pernah membaca blog ini (saya menyebut siapa pun, karena tidak yakin punya pembaca tetap) mungkin mengetahui bahwa saya tidak terlalu baik dalam menepati target dan resolusi. Saya pernah memperbarui blog ini setiap hari, selama 30 hari, karena sebuah lomba. Saya juga pernah tidak menyentuh blog ini selama nyaris satu tahun. Saya pernah membuat resolusi di tahun 2011, untuk mempelajari bahasa isyarat. Hingga tahun 2013 ini, tidak ada satu pun kata dalam bahasa isyarat yang saya ingat. Dengan kegagalan terus menerus dalam menepati resolusi dan target, bagaimana saya bisa mewujudkan versi diri yang lebih baik?

Tuesday, October 9, 2012

Jika instruktur aerobik saya adalah seekor angsa..

... maka saya adalah godzilla mabuk yang sedang manghancurkan kota. Gerakan senamnya yang lembut seperti balet, saya terjemahkan menjadi poco-poco.

Minggu lalu, saya mendaftar ke sebuah klub kebugaran di dekat rumah saya. Tidak ada alasan khusus dalam memilih klub kebugaran ini. Interiornya biasa saja. Nama mereka pun kuno. Kartika Dewi. Tidak orang yang akan mengingat Kartika Dewi sebagai nama klub kebugaran. Nama Kartika Dewi hanya mengingatkan orang pada toko kue di Bandung. Dan mungkin karena ini pula, saya mendaftar sebagai anggota Kartika Dewi. Petunjuk lainnya, klub kebugaran ini berbagi ruang dengan toko brownies Amanda. Apa secara tidak sadar, saya berusaha menyabotase misi "hidup sehat" ini? Mungkin.

Namun, ada satu hal yang saya ketahui secara pasti. Otak dan tubuh saya ternyata memiliki relasi yang hampir sama rumitnya dengan hubungan menantu perempuan-ibu mertua yang ditulis di kolom curahan hati, di sebuah majalah perempuan. Diam-diam mereka saling membenci satu sama lain, dan diwarnai dengan pesan-pesan yang disalahartikan. Juga penuh kecanggungan.

Friday, September 28, 2012

Kehilangan dan materi-materi di dalamnya

Pertunjukkan Mwathirika sudah dipentaskan berulang kali di beberapa tempat. Walau sempat gagal menonton pementasan pertamanya pada Desember 2010, saya berhasil menonton Mwathirika pada tanggal 30 Agustus 2012 di Padepokan Bagong Kussudiardjo. Pementasan kali ini merupakan bagian dari penggalangan dana untuk acara Pesta Boneka 3, sekaligus mohon doa restu karena tim Papermoon akan mementaskan Mwathirika di 17 kota di Amerika Serikat, mulai dari 8 September hingga 1 Oktober 2012.

Mwathirika bukanlah pementasan pertama Papermoon yang saya tonton. Sebelumnya, saya sudah menyaksikan Secangkir Kopi dari Plaja (2012) dan Dalam Sebuah Perjalanan (semoga judulnya tidak salah, 2008). Dan menurut saya sejauh ini, Mwathirika merupakan karya Papermoon yang paling kuat dari segi visual dan narasi.

Dalam blog mengenai pementasan ini, Mwathirika dideskripsikan sebagai sebuah teater boneka mengenai sejarah yang hilang dan sejarah dari bangsa yang hilang (a puppet play about the lost history and the history of lost of a nation). Kehilangan merupakan inti pusaran cerita dalam Mwathirika. Tupu dan Moyo kehilangan bapaknya, Baba, setelah kemunculan tanda merah yang digambar oleh orang-orang bertopeng burung nasar, di pintu rumah. Sang kakak, Tupu, berupaya mencari keberadaan Baba, dan Moyo menunggu di rumah. Tupu pun tak kunjung pulang. 

Di tengah ketidakpastian ini, tetangga mereka, Pak Haki memilih untuk memutuskan hubungan dengan keluarga Moyo, dan berencana membawa anak perempuannya, Lacuna, untuk pergi. Namun di saat Pak Haki siap dengan koper di tangan, Lacuna pun hilang entah kemana. Sinopsis yang lebih baik dapat ditemukan di blog Mwathirika.

Thursday, September 27, 2012

Target-target yang masih menjadi target

Dorami berkata "Revisi? Wadaaaap, wadaaaap?!?"
Banyak film mengenai kehidupan penjara dan bagaimana seorang narapidana (yang biasanya merupakan tokoh utama) melewati masa tahanan dengan membayangkan kenyamanan hidup di luar penjara. Ketika akhirnya ia benar-benar bebas, ternyata hidup di luar penjara, tidak secara otomatis lebih baik. Ternyata semua hal menjadi lebih baik melalui berbagai macam upaya.

Dari segala macam film mengenai mengenai cerita di atas, yang saya ingat hanyalah Charlie's Angels 2: Full Throtle. Saya mencoba mengingat film-film festival dengan kualitas baik, mengenai kehidupan mantan narapidana di luar penjara. Supaya imej saya di blog ini terlihat lebih intelektual. Lalu kemudian saya ingat, bahwa semua film independen yang saya tonton, memiliki tema serupa. Keluarga canggung, remaja canggung, dan kisah cinta yang canggung. 

Kembali pada kisah mantan narapidana di luar penjara, di film Charlie's Angels, Seamus O'Grady memupuk kebencian pada salah satu malaikat Charlie (malaikat Charlie - terdengar aneh jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia), Dylan Sanders, karena telah melaporkan Seamus ke polisi. Seamus juga merasa sakit hati karena Dylan adalah pacarnya, dan pacar yang melaporkan pasangannya ke polisi dianggap sebagai pengkhianat. Seamus berambisi untuk membalas dendam pada Dylan, setelah ia bebas dari penjara. Inilah tujuan utama Seamus.